New Job, New Life

May 8, 2008

Hari ini adalah hari ke-5 aku bekerja di tempat baru. Sebuah perusahaan multinasional yang bergerak di bidang asuransi, yang berlokasi di Karawaci. Yup.. Tangerang. Jauh sekali bukan? Tiap hari harus berangkat pagi-pagi agar bisa sampai di kantor sebelum pukul 8:00. That’s Life…

Kadang untuk meraih sesuatu dalam hidup kita dihadapkan pada pilihan-pilihan. Dan masing-masing ada resikonya. Tapi insyaallah pilihanku untuk meninggalkan tempat kerjaku yang sebelumnya dan menerima tawaran di tempat kerja yang baru, adalah pilihan yang terbaik.

Wish me luck…

Bos yang iseng

February 15, 2008

Pagi ini semua member di groupku dapet email yang aneh dari bos. Aneh, karena nggak biasanya dia kirim email kayak gini. Isinya tentang status masuk kantornya masing-masing orang. Si A dateng jam berapa trus ngapain, Si B dateng jam berapa trus ngapain… dan seterusnya. Dan data-data itu adalah hasil surveinya dia mulai dari pagi jam masuk sampe setengah jam berikutnya.

Terus terang, emang di groupku itu orang-orangnya rada kurang kalo masalah disiplin jam kerja. Sering banget dateng cuma setor muka, abis itu ngilang entah ke mana.. biasanya sih pada ngobrol di ruang sebelah, ato ngerokok. Mungkin itu yang bikin si bos iseng kayak gitu. Biar gimana pun, gak akan ada asep kalo gak ada api.

Beberapa yang merasa datengnya telat, buru-buru reply tuh email dengan menyampaikan alasan-alasan keterlambatannya. Hehehe…

Untungnya, namaku termasuk dalam status yang “baik” di situ.. dateng pas jam 7 teng (malah barangkali sebelum jam 7), trus abis itu duduk dengan manis di depan PC (padahal lagi asik nge-game).

Yah, begitulah suasana kerja di tempatku. Unik. Aku yakin di tempat kerja rekan-rekan yang lainnya juga pasti banyak pengalaman yang lebih unik dan menarik untuk diceritakan.

Happy Birthday, My Love…

February 15, 2008

“Selamat Ulang Tahun, Sayang…”

Itu adalah kata-kata pertama yang aku ucapkan pagi ini pada Susan. Aku ciumi dia sampai akhirnya dia gak betah dan bangun dari tidurnya. Yah, memang seringnya aku yang bangun lebih awal dari pada Susan, karena aku harus berangkat kerja lebih pagi dari dia. Jam 6 pagi aku harus sudah stand by di pick-up point untuk menunggu bis yang menjemputku. Sementara dia jam 8 pagi baru berangkat kerja.

Kembali lagi ke tema pagi ini.

Ulang tahun Susan hari ini memang ulang tahun pertamanya setelah kami berdua menikah. Memang agak berbeda. Terutama tentang kado yang akan aku berikan buat dia. Di ulang tahunnya yang sebelumnya, yaitu pada saat kami masih pacaran, aku masih punya banyak waktu untuk memilih-milih kado, menyiapkan kejutan buat dia, dan hal-hal lain yang istimewa untuk merayakan ulang tahunnya. Tapi sekarang, sepertinya pola seperti itu sudah nggak bisa aku terapkan lagi. Karena aku gak punya waktu untuk “sendiri” lagi. Tiap pulang kerja, sudah ketemu dia, dan dia tuh tipe yang nggak bisa ditinggalin sendiri.. pengen ikut terus kalo aku pergi.. alasannya, takut di rumah sendirian. Otomatis aku gak bisa punya waktu untuk memilih-milih kado seperti dulu.

Akhirnya aku biarkan dia sendiri nanti yang memilih kadonya. Rencananya hari Minggu kami mau pergi jalan, makan di luar untuk merayakan ulang tahunnya, dan dia memaksa untuk mentraktirku, setelah itu dilanjutkan dengan beli kado buat dia. Hehehe, rada aneh juga yah… yang ulang tahun milih kadonya sendiri.

Hm, aku jadi mikir, pas ulang tahunku nanti aku pengen kado apa yah dari dia. Bisa milih sendiri kan.

Valentine’s Day?

February 14, 2008

Hari ini tanggal 14 Februari 2008. Yup, tanggal yang sangat mudah diingat bagi anak-anak muda, bahkan mungkin orang dewasa juga. Valentine’s Day. Beberapa hari belakangan ini televisi juga lagi gencar mengiklankan paket acara andalan mereka.

Kalau buat aku pribadi sih, karena di kepercayaanku menganggap Valentine’s Day adalah perayaan dari kepercayaan umat lain, maka aku pun gak mau ikut-ikutan. Walaupun, dulu waktu kuliah sempet “terbawa arus”, dan sempet ngasih coklat pas di tanggal 14 Februari. Well, mungkin memang pengaruh jiwa muda.

Tapi kalau aku pikir-pikir, agak aneh juga sih yang namanya Valentine’s Day itu. Dibilangnya “hari kasih sayang”… sekilas terkesan di hari itu tiap orang bisa mencurahkan kasih sayangnya pada orang-orang yang dikenalnya. Lha apa tiap hari mereka gak boleh mencurahkan kasih sayang? Kalau memang itu makna dari Valentine’s Day, maka buat aku, everyday is Valentine’s Day.

Terlepas dari merayakan atau tidak merayakan Valentine’s Day, ternyata banyak pihak yang terlibat dan menggantungkan hidupnya dari hari kasih sayang ini. Lihat saja produsen coklat, penjual mawar, bahkan artis-artis ibukota yang kebanjiran job untuk meramaikan perayaan Valentine’s Day ini. It’s about business.

Eksploitasi gejolak jiwa muda di hari kasih sayang untuk kepentingan bisnis..? Hm, aku pikir terlalu ekstrim kalau aku menyebutnya demikian. Karena toh semuanya merasa diuntungkan. Si penjual senang karena barang dagangannya ludes, dan si pembeli juga senang karena hasrat jiwa mudanya terpuaskan.

Anyway, pada kesempatan ini aku nggak akan mengucapkan selamat hari kasih sayang… tapi aku hanya mengajak semuanya untuk selalu menyayangi orang-orang terdekat kita, tanpa mempedulikan tanggal berapakah itu. Karena tak ada yang tau apakah kita akan hidup cukup lama untuk mengucapkan kata “sayang” pada tanggal 14 Februari di tahun berikutnya. Jangan sia-siakan waktu kita.

Belakangan ini ngeliat iklan tarif operator seluler makin gila-gilaan. Semuanya pada perang harga. Yang PeDe lah, Ngorbit lah, dll. Sampe ada yang berani nawarin tarif Rp 0,- ! Buset dah… kalo gak teliti, sering kejebak dengan iklan-iklan kayak gitu.

Barangkali kalau iklan-iklan itu hadir pada saat aku dan Susan masih pacaran, barangkali aku termasuk orang yang rajin mengikuti perkembangan tarif operator seluler itu. Tapi berhubung udah nikah, dan udah gak LDR (Long Distance Relationship) lagi, maka semua iklan-iklan itu aku abaikan. Istilahnya: Gak ngaruh!

Justru aku sekarang lagi perhatian masalah tarif internet yang ditawarkan oleh operator seluler. Terus terang, untuk internet aku tuh paling males kalo yang namanya musti registrasi, daftar ini, bayar ini tiap bulan, dan kalo mo berenti musti lapor… ribet. Pengennya yang suka-suka.. gak terikat apa pun.

Dan di saat “perang harga” tarif operator seluler masih berlangsung, aku perhatikan gak ada yang berusaha menyentuh segmen pengguna internet mobile ini. Kalaupun ada, gak seheboh iklan tarif percakapan. Saat ini untuk internet aku pakai StarOne dengan tarifnya Rp 75/menit, jauh lebih murah daripada Telkomnet Instan. Dengan tarif segitu, per jamnya bakal kena Rp 4500,- Lumayanlah, daripada ke warnet.. soalnya kalo ke warnet masih plus ongkos parkir.

Aku hanya berangan-angan, suatu saat nanti, tarif internet seluler akan benar-benar sangat murah… barangkali saja bisa seperti tarif percakapan yang lagi gencar diiklankan.. Rp 0.1/menit.. wahahaha.. Amiiin.. mudah-mudahan terjadi.

Talk to Customer

February 12, 2008

Kira-kira seminggu yang lalu aku dan Susan lagi kompakan gak enak badan. Susan batuk pilek, sedangkan aku masuk angin. Trus karena sakit, aku gak tega minta Susan buat masak di rumah. Akhirnya aku ajak aja dia makan di luar, di deket tikungan pos polisi.

Di sana aku pesen kuetiaw goreng ayam spesial dan Susan pesen mi goreng seafood spesial. Sebenarnya menu-menu itu enak dan lezat. Hanya saja, karena kami berdua lagi gak enak badan, akhirnya baru setengah piring, kami berdua udah berenti makan.

Pas bayar, rupanya si penjual mengamati bahwa di antara kami berdua gak ada yang menghabiskan masakannya. Sambil mengeluarkan uang kembalian, dia nanya.

“Mas, masakannya gak enak ya?”

Aku bengong sesaat. “Hah?”

“Makanannya gak enak ya? Kok nggak dihabiskan.”, lanjutnya.

Baru deh aku nyadar.

“Oh, enak kok, Mas. Cuma kami berdua lagi gak enak badan, jadi gak bisa makan banyak-banyak.”, jawabku.

Terus terang, jarang banget ada penjual yang seperti itu. Peduli dengan apa dirasakan oleh pelanggan. Dan tiba-tiba saja aku teringat pengalaman waktu kerja di McDonald’s dulu. Di McDonald’s kami sangat dianjurkan untuk “talk to customer” di saat-saat senggang. Tujuannya untuk mendapat masukan dari pelanggan tentang pelayanan kami.

Gak nyangka, ternyata di luar McDonald’s, ada seorang penjual makanan di pinggir jalan yang juga menerapkan metode itu.