Talk to Customer
February 12, 2008
Kira-kira seminggu yang lalu aku dan Susan lagi kompakan gak enak badan. Susan batuk pilek, sedangkan aku masuk angin. Trus karena sakit, aku gak tega minta Susan buat masak di rumah. Akhirnya aku ajak aja dia makan di luar, di deket tikungan pos polisi.
Di sana aku pesen kuetiaw goreng ayam spesial dan Susan pesen mi goreng seafood spesial. Sebenarnya menu-menu itu enak dan lezat. Hanya saja, karena kami berdua lagi gak enak badan, akhirnya baru setengah piring, kami berdua udah berenti makan.
Pas bayar, rupanya si penjual mengamati bahwa di antara kami berdua gak ada yang menghabiskan masakannya. Sambil mengeluarkan uang kembalian, dia nanya.
“Mas, masakannya gak enak ya?”
Aku bengong sesaat. “Hah?”
“Makanannya gak enak ya? Kok nggak dihabiskan.”, lanjutnya.
Baru deh aku nyadar.
“Oh, enak kok, Mas. Cuma kami berdua lagi gak enak badan, jadi gak bisa makan banyak-banyak.”, jawabku.
Terus terang, jarang banget ada penjual yang seperti itu. Peduli dengan apa dirasakan oleh pelanggan. Dan tiba-tiba saja aku teringat pengalaman waktu kerja di McDonald’s dulu. Di McDonald’s kami sangat dianjurkan untuk “talk to customer” di saat-saat senggang. Tujuannya untuk mendapat masukan dari pelanggan tentang pelayanan kami.
Gak nyangka, ternyata di luar McDonald’s, ada seorang penjual makanan di pinggir jalan yang juga menerapkan metode itu.
Leave a Reply