“Hi, what’s your name?”, tanya seorang ibu muda yang tengah menggandeng putrinya yang masih berumur sekitar 5 tahun kepada gadis kecil yang digandeng oleh seorang pria bule yang berdiri di depannya saat sedang menuruni eskalator Giant Plasa Semanggi siang itu. Si gadis kecil bule itu menjawab, “Jasmine”. “Ow, what a beautiful name..”, lanjut si ibu muda. Si pria bule itu tersenyum pada si ibu muda dan bertanya, “And what is this beautiful little lady’s name?” sambil melihat ke arah putri si ibu muda. Dan perbincangan pun berlanjut singkat hingga mereka sampai di ujung eskalator untuk kemudian saling mengucapkan kata “Goodbye.”
Pemandangan yang aku saksikan siang itu jarang sekali bisa kita temui. Saling menyapa walaupun pada orang yang belum kita kenal, apalagi orang tersebut berbeda kebangsaan dengan kita. Kita cenderung cuek, kadang dengan dalih “tidak bisa berbahasa Inggris”. Padahal seulas senyum pun bisa bermakna sapaan.
Saat ini citra bangsa Indonesia sedang menghadapi cobaan di mata dunia. Berita-berita tentang kekerasan yang terjadi di negara kita, mau tak mau telah memberikan citra yang “miring” di hadapan bangsa lain. Tingkat korupsi di negeri ini pun menempati peringkat tiga dunia. Sungguh bukan prestasi yang patut dibanggakan. Adanya isu terorisme pun telah memberikan cap Indonesia sebagai “sarang” teroris. Sungguh menyesakkan dada memang..
Lalu apakah daftar itu masih harus kita perpanjang dengan sikap kita yang tidak mau bersikap ramah pada orang lain? Dulu bangsa Indonesia dikenal di dunia internasional karena keramahannya. Mari kita kembalikan citra itu lagi. Mulailah membiasakan diri bersikap ramah pada diri kita sendiri, pada pasangan kita, pada anak-anak kita dan pada teman-teman kita. Percayalah bahwa semua hal itu bisa kita lakukan karena kita terbiasa.
Berbahagialah saat kita bisa membahagiakan orang lain.
Catatan kecil saat termenung sendiri di Platinum Plasa Semanggi. Gambar ilustrasi dipinjam dari sini.

