Empat Zona Hidup Manusia

Masih dari acara kumpul-kumpul di Balai Sarbini hari Sabtu lalu. Selain materi tentang “Leadership” yang sudah aku tulis sebelumnya, di salah satu sesi kita diputarkan sebuah video presentasi yang menjelaskan bahwa ada empat zona dalam hidup seseorang. Empat zona tersebut adalah:

  1. Banyak waktu, kurang uang.
  2. Kurang waktu, kurang uang.
  3. Kurang waktu, banyak uang.
  4. Banyak waktu, banyak uang.

Lalu kita diajak untuk berpikir bahwa zona keempat lah yang harus kita tuju, yaitu banyak waktu dan banyak uang.

Sepintas aku sependapat, tapi entah kenapa dalam hati ini rasanya masih ada yang kurang sreg. Butuh waktu beberapa lama, sampai salah seorang sahabatku memasang insight tersebut di status Facebook-nya, dan aku membaca salah satu komentar di bawahnya. Komentar tersebut mengatakan bahwa hanya ada dua zona, yaitu “Miskin” dan “Kaya”. Mendadak aku menemukan kata kunci di mana letak kejanggalan tentang empat zona di atas.

Aku berpendapat bahwa empat zona di atas terlalu sempit memandang hidup ini hanya diukur dari waktu dan uang. Padahal ada sesuatu yang jauh lebih besar dan jauh lebih bermakna, yang disebut dengan “kebahagiaan”. Sehingga kalau aku boleh merubah materi presentasi tersebut, aku ingin merubahnya menjadi:

  1. Miskin, tidak bahagia.
  2. Miskin, bahagia.
  3. Kaya, tidak bahagia.
  4. Kaya, bahagia.

Orang miskin dan tidak bahagia sangat banyak kita temui. Orang miskin yang selalu menyalahkan keadaan, menyalahkan orang lain terutama penguasa atas kemiskinan yang dialaminya, tanpa pernah mau berusaha keras untuk merubah nasibnya. Orang-orang yang seperti ini biasanya mudah menyerah dan putus asa.

Orang miskin tapi bahagia, adalah orang-orang yang walaupun dalam kemiskinan dia tetap bersyukur dan meyakini bahwa Tuhan selalu menyertainya. Dia yakin bahwa dalam hidup ini dia harus tetap berjuang. Tetap rendah hati dan peduli dengan orang lain, selalu tersenyum menatap kehidupan ini dengan optimis. Bisa dibilang bahwa orang-orang dalam zona ini adalah orang kaya yang belum punya banyak uang.

Orang kaya tapi tidak bahagia, adalah orang-orang yang dalam gelimangan harta tetap saja selalu merasa kekurangan. Kekurangan di sini bukan hanya dalam hal materi saja, melainkan bisa berupa kekurangan waktu (seperti konsep empat zona yang awal tadi), kekurangan kasih sayang dari orang-orang terdekatnya, kekurangan rasa aman, dll. Contoh sederhana adalah yang sedang ramai diberitakan di televisi tentang koruptor-koruptor yang memiliki kekayaan sekian puluh milyar tapi selalu dikejar-kejar oleh rasa takut akan diusut oleh Komisi Pemberantasan Korupsi. Hidupnya tidak akan tenang dan kebahagiaan pun akan semakin jauh dari harapannya.

Dan yang terakhir adalah orang kaya dan bahagia. Alangkah indahnya jika kita sudah bisa berada pada zona ini. Perpaduan antara hasil kerja keras dan kepuasan batin yang terwujud dalam bentuk syukur atas semua rejeki yang dilimpahkan oleh Tuhan padanya adalah kunci untuk mencapai zona ini. Sukses dan bahagia bisa diraih dengan keseimbangan pola pikir yang tepat.

Aku yakin hampir semuanya menginginkan berada di zona keempat. Tapi sudahkah kita memulai membangun pribadi dan pola pikir kita untuk mencapai semua itu? Sudahkah kita mulai bekerja keras dalam hidup ini? Sudahkah kita jeli melihat peluang di luar sana yang mungkin akan membuat mimpi kita terwujud? Sudahkah kita sabar dalam menjalani itu semua? Dan yang paling penting.. Sudahkah kita bersyukur pada Tuhan atas apa yang telah Dia berikan pada kita?

Salam.

Thanks to Ilnayuti Sari sudah memulai inspirasiku pagi ini.
Gambar ilustrasi dipinjam dari sini.

5 responses to this post.

  1. minjem gambar udah ijin dulu belum he he…

    Wan, update terus bro, sampai sesuatu itu berwujud MENJADI sebuah BUKU, itu yang ku maksud kemarin.

    Walau belum sempurna, aku udah satu khan, “Dongeng dari Negeri Paman Slam” dan udah menghasilkan untuk mensejahterakan anak2 yatim sesaat, aku berharap bisa berbuat itu lagi, dan kamu harus buktikan juga bro, BUKKKTIKAAANNNNN..! hihihi

    Reply

  2. @paman slam
    Amiiin… Mudah-mudahan terus bisa terinspirasi untuk nulis ya, Pak.
    Pengen juga bisa bikin buku kayak sampeyan.
    Dikit-dikit nabung ya. Artikel hasil perenungan diri tentang makna kehidupan.. *halah*

    Reply

    • apa aja bro, yang puenting semangat nulis itu

      seorang bijak pernah berkata “Ikatlah Ilmu dengan menuliskannya”

      dan ada lagi, ini kata pak agoenk “the Tjeper” dari Andrea Hirata

      “Saya meragukan validitas rendahnya budaya membaca
      anak negeri ini, saya malah bertanya ada apa dengan
      penulis?, harusnya penulis menulis buku yang “tidak
      membuat orang malas baca” ~
      ~ Andrea Hirata ~

      *huhuhuhu, pecut terusssss*

      Reply

  3. @paman slam
    Mantep banget motivasinya, Pak.
    Jadi makin terpacu nih…..

    Reply

  4. Posted by aonmana on January 16, 2012 at 10:51 pm

    :) like

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.