Anda mungkin pernah mempunyai niat untuk melakukan sesuatu yang baik, dan Anda mencoba untuk berkomitmen dalam melakukannya. Namun seringkali komitmen tersebut terlupakan hanya karena godaan-godaan yang walaupun sebenarnya sepele tapi bisa membuyarkan semua niat baik Anda tersebut.
Mari kita ambil contoh sederhana. Ada seorang sahabat yang sudah menjadi perokok berat sejak dia duduk di bangku SMP. Dalam satu minggu dia bisa menghabiskan satu slop rokok seharga kurang lebih Rp 80 ribu per slopnya. Aku pernah mengajak dia untuk menghitung berapa banyak uang yang telah dia habiskan hanya untuk rokok saja. Misalkan dia dalam satu minggu menghabiskan uang Rp 80 ribu, maka dalam satu bulan dia menghabiskan Rp 320 ribu. Dan dalam satu tahun sekitar Rp 3,8 juta. Lalu angka tersebut aku coba kalikan dengan lama waktu dia bekerja di perusahaannya, yaitu 10 tahun, artinya dia sudah menghabiskan Rp 38 juta hanya untuk rokok saja. Dia sempet ternganga melihat angka fantastis tersebut, dan hanya bisa berkomentar “Wah, gue bisa beli dua motor tuh..”.
Belakangan dia sering batuk-batuk dan merasa dadanya terasa sesak. Aku menduga itu karena kebiasaan merokoknya. Dan tak bosan-bosannya aku selalu menasehati dia untuk berhenti merokok. Nasehat tersebut terbilang “cukup” efektif, karena dia kemudian punya niat untuk berhenti merokok. Sehari, dua hari, seminggu, dia masih tahan godaan. Kadang dia mengulum permen untuk mengurangi rasa ingin merokoknya. Minggu kedua dia mulai gelisah, Permen dia rasa sudah tidak cukup efektif untuk mengalihkan perhatiannya dari rokok. Diperparah dengan lingkungan tempat dia biasanya nongkrong, yang selalu dipenuhi dengan orang-orang merokok. Bau asap rokok membuat dia semakin tidak tahan lagi, hingga akhirnya meminta sebatang rokok pada temannya yang lain. Hanya sebatang… Tapi ternyata sebatang rokok itu sudah membuyarkan tekad dan usaha yang telah dijalaninya selama seminggu terakhir. Terbukti, hari berikutnya dia pun sudah terlihat merokok lagi.
Memang saat kita mempunyai niat untuk berbuat baik, ada saja godaan-godaan yang datang. Godaan yang tujuannya tak lain adalah untuk membuat kita lupa akan tujuan kita sendiri yang lebih besar. Dan saat kita tergoda, timbul rasa bersalah, kadang juga putus asa dalam menjalani niatan tersebut.
Saya pernah mendengar sebuah tips dari Anthony Dio Martin, seorang pakar psikologi dari HR Excellency, bahwa jika kita mempunyai niat yang baik, coba tanyakan pada diri sendiri apa alasan kita mau melakukan niat tersebut. Jika sudah mendapat jawabannya, tanyakan lagi kenapa.. kenapa.. dan kenapa.. sampai kita menyentuh sisi emosional kita yang kita benar-benar tidak bisa menolaknya.
Dari pengalaman sahabat saya di atas tadi, dia punya niat untuk berhenti merokok. Kenapa? Karena dia sering mengeluh batuk-batuk dan dada terasa sesak. That’s all! Dengan berbekal alasan tersebut, dia menjalani niatnya. Setelah seminggu berhenti merokok, mungkin dia sudah tidak lagi mengalami batuk-batuk dan dada sesak, sehingga pikirannya berkata bahwa dia sudah boleh merokok lagi. Itulah yang membuat semuanya buyar hanya dalam sekejap.
Sekarang mari kita gunakan tips dan pendekatan yang disampaikan oleh Anthony Dio Martin.
Dia berniat untuk berhenti merokok. Kenapa dia ingin berhenti merokok? Karena dia ingin sehat. Kenapa dia ingin sehat? Karena dia ingin hidup lebih lama. Kenapa dia ingin hidup lebih lama? Karena dia ingin menyaksikan anak-anaknya tumbuh besar, ingin memberikan yang terbaik buat mereka. Dia ingin ada mendampingi dan menyaksikan saat anak-anaknya menikah. Dia juga ingin melihat cucu-cucunya, menggendong dan bermain dengan mereka. Dia tak ingin kehilangan momen kebersamaan dengan orang-orang yang dicintainya. Bagaimana menurut Anda? Bukankah alasan yang terakhir lebih menyentuh sisi emosional kita? Nah, jika pendekatan tersebut yang digunakan sejak awal, mungkin dia tidak akan mudah tergoda untuk mulai merokok lagi. Karena dia selalu membayangkan konsekuensi di balik itu semua. Sehingga sangat penting untuk memiliki alasan-alasan yang menyentuh sisi emosional kita dalam melakukan niat baik, agar usaha dan komitmen yang kita buat tidak akan mudah goyah oleh hal-hal sepele. Sisi emosional masing-masing orang bisa jadi berbeda. Ada yang lebih ke arah keluarga, karir, aktualisasi diri, dan lain sebagainya. Maka pilih alasan yang tepat untuk itu.
Tips tersebut juga bisa kita coba gunakan untuk hal-hal lain, niatan-niatan baik kita, agar kita tetap konsisten dan komitmen pada apa yang sudah kita usahakan.
Salam.
Terinspirasi dari talkshow Smart Emotion di SmartFM bersama Anthony Dio Martin. Gambar ilustrasi dipinjam dari sini.

